Layakkah saya mendapat subsidi ?

13 04 2008

Baru-baru ini (belom ada sebulan kayaknya) saya melihat sebuah spanduk di sebuah SPBU yang bertuliskan “Apakah Anda Layak Menerima Subsidi yang seharusnya diberikan kepada rakyat miskin ?” (hmm… mungkin kalimatnya tidak sempurna, tapi itulah intinya). Spanduk ini mulai dipasang ditengah terus melonjaknya harga bahan bakar. Para pejabat kita yang di sana itu menyimpulkan bahwa negara membayarkan subsidi kepada orang yang seharusnya tidak menerima subsidi (orang di sini kemudian didefinisikan dengan yang empunya mobil mewah. Mobil mewah tidak didefinisikan). Dikatakan bahwa orang-orang kaya itulah yang merampas hak-hak rakyat miskin. Mereka yang seharusnya mendapat jatah tetapi malah direbut oleh orang-orang kaya tersebut untuk kepentingannya sendiri…

Ketika saya melihat spanduk tersebut, saya hanya dapat mengatakan dalam hati ‘Ya, saya layak menerima subsidi’ Mengapa ? Bukan karena saya termasuk dalam kategori orang miskin tetapi saya masuk dalam kategori pembayar pajak. Negara dapat memberikan subsidi memang uangnya dari mana ? Salah satu komponen penerimaan negara (yang sekarang lagi dikejar-kejar untuk ditingkatkan) itu kan pajak. Ketika negara mendapat pemasukan dari pajak lalu diolah untuk dimasukkan ke dalam pos-pos APBN, di situlah sebagian uang saya berada. Lebih jauh lagi saya mempertanyakan, apakah rakyat-rakyat yang dikatakan miskin itu membayar pajak yang diperuntukkan untuk membayar subsidi ? Saya tidak yakin karena pertama, memang pendapatan mereka masih dibawah batas Wajib Pajak dan kalaupun mereka sebenarnya sanggup mereka pasti enggan membayar dengan dalih ‘masih banyak kok yang lebih kaya dari saya’. Saya tidak mengatakan bahwa mereka yang tidak menbayar pajak tidak boleh mendapat subsidi, tapi dalam hal ini apakah saya layak ? Ya, karena saya membayar

Menurut saya, Indonesia yang tatanan sosialnya sudah babak belur inilah yang harus diatur. Sebenarnya kan lebih baik dihimbau untuk mengurangi pemakaian BBM, tapi apa daya… rumah di Pantai Indah Kapuk, kerja di Kuningan, tiap hari ya harus bawa mobil biar cepat, dan jarak tempuh yang cukup jauh itulah yang membuat pemakaian bensin yang boros. Itu masih di Pantai Indah Kapuk, kalau tinggalnya di Bogor, kerjanya di Jakarta, itu lebih parah lagi…. Sudah jarak tempuh yang jauh ditambah lagi kemacetan yang tambah lama tambah runyam. Saya pernah membaca bahwa Biaya Bensin yang menguap di jalan mencapai milyaran rupiah. Jika harus membeli bensin senilai 1 miliar saja, berapa banyak subsidi pemerintah yang ada di sana ? Itu yang menguap karena macet, belum yang benar-benar dipakai untuk menempuh perjalanan, bisa dibayangkan… Subsidi menguap itu tidak hanya diberikan untuk orang-orang yang dikatakan kaya saja tapi juga berlaku untuk seluruh kendaraan umum, karena mereka toh juga ikut macet-macetan, dan lebih parah lagi, kendaraan umum sendiri sudah bermacet-macetan ria sejak keluar dari terminal. Saya yang sering menggunakan bis dari terminal Pulo Gadung amat merasakan ruwetnya Jakarta. Untuk keluar dari Pulo Gadung saja diperlukan waktu hingga 20 menit. Lucunya, untuk jalan tersepi, hanya diperlukan waktu 30 menit untuk sampai ke Depok. Dalam waktu 20 menit itu, berapa banyak bahan bakar yang terbuang (berapa banyak duit subsidi yang terbuang). Memang Indonesia membutuhkan sebuah overhaul, perubahan secara menyeluruh agar dapat menyelesaikan masalahnya, dan entah sampai kapan.

Tapi jika ditanya Layakkah Saya mendapat Subsidi ? Ya, saya layak, karena saya juga membantu pemerintah menyejahterahkan rakyat…





喜爱汉语

13 04 2008

不知不觉我已经三年级了,也可以说我学汉语学了三年了。现在我的汉语水平比较高了。

本来,我对汉语一点儿兴趣也没有。那时,我是高中三年级的学生。我的爱好是电脑有关的事情。我总是希望变成一个设计员,一定一个用电脑的设计员,可是我爸爸不同意。他说设计员已经很多了,很难得到工作,所以爸爸鼓励我入学汉语。那时,有人说汉语是最好处的系,有人说入学语系是没有骄傲的。对我来说,汉语只一个系,没有特别。因为我要更明的前景,我选择学汉语。那是我的原因。

三年过了。现在我明白了爸爸的意见。如果那时候我不选择学汉语,我就觉得很遗憾。学汉语不是简单的事。记住五千汉字需要很多力量。这三年我吃了很多苦,有时候我想放弃。因为我还记得我的梦想,我对自己说不能放弃。

现在我有很多梦,但是最重要的是我要比老师更好。为了得到那个梦,我得更努力学习。





My Life : Update

13 04 2008

Suatu hari (yang pasti bukan hari ini) gw terbangun di pagi hari dan tersadar bahwa gw kuliah tinggal setaon lagi n it means bentar lagi gw mesti cari kerja. Gw harus mulai memikirkan masa depan yang ironisnya sampe sekarang blom gw pikirkan matang-matang. Kayaknya baru kemaren gw tinggalkan masa-masa SMA gw yang…. lumayan membosankan juga sy, tapi menarik. Gw bisa belajar banyak hal selain pelajaran SMA yang mayan mumet itu. Kalo soal nilai ya jangan ditanya lah… nilai gw standar abis, cenderung rendah pas SMA. Niat belajar gw juga cuman ditargetin naek kelas doang, itu juga cita-citanya IPS pula.. hahaha… pasti masuk punya tuh :)

Lepas SMA, tadinya niat masuk kuliah jurusan design, tapi ditentang ama bokap yang lebih setuju kalo masuk sastra…. Hahaha… sekarang gw ngerti kenapa bokap gw ngomong gitu… untung juga gw ga masuk design, bisa jadi kalong + Panda gw. Ndak tahan euy kalo denger cerita manusia-manusia design di [salah satu universitas] sana yang mesti ngarsir satu-satu secara manual. Bisa gila tengah jalan gw… huehehe…. tapi jangan salah, jurusan yang gw masukin ini gaq kalah gilanya dan masih ada hubungannya ama design :P Wkwkwk… Pada akhirnya gw kejeblos :P eh…. masuk ke jurusan Sastra Cina (tidak ada yang salah dalam penulisan, emang Sastra Cina, bukan sastra China, Sastra Mandarin, apalagi Sastra Tionghoa) gitu… Mungkin banyak yang ngira daripada masuk sastra mending ngeles bahasa aja… weitss… jangan salah… ngeles bahasa tuh nggak ada tai2nya sastra Cina, apalagi sastra Cina UI – Universitas Indonesia (Ceritanya kan lagi ngebanggain uni sendiri, padahal sih semua jurusan sastra Cina sama aja… belajarnya dengan kucuran keringat dan air mata). TOP banget emang ny jurusan… kalo jurusan laen ngerti ga ngerti dosennya cuek bebek (yang gw denger sy gitu, kalo nggak ya maap, berarti Anda pengecualian) nah kalo di sini nih… dosennya yang ketar-ketir kalo mahasiswanya gaq ngerti. Dosennya peduli abes dah. Ada seorang dosen pernah bilang kalo les-les bahasa di sini tuh kebanyakan menganggap bahasa Cina sebagai bahasa pertama, alias bahasa ibu, maka itu tempat les di sini ngajarinnya asal lewat aja… padahal kan ngajar bahasa Cina itu susah banget… Dari cara bacanya aja udah susah, mesti nekuk-nekuk lidah apalagi nulisnya… ngapalnya lebih parah lagi… nah, dari ngebacanya aja diajarinnya udah ga betul (dianggep ga betul karena dianggep bahasa Cina sebagai bahasa pertama) makanya jadi kurang tepat sasaran. Doh ini gw ngomong apa sih… oke… kembali-kembali. Jadi, kalo di uni gitu kita gaq cuman belajar bahasa aja tapi ada juga budaya, sastra, sejarah, linguistik dan segala macam yang berhubungan ama Cina itu yang disono itu…. jadi kita bisa menjadi seorang sinolog err…. ya gitu deh pokoqnya. Lebih lah dari bahasa tok… dan walaupun dari nol sekalipun, masuk sini dipoles jadi bisa dah… dijamin. Yang penting ada niat dan kemampuan pasti bisa…. (intinya sih lebih ke niat). Itu sekilas profil jurusan Cina. Ga kerasa sekarang gw udah tingkat tiga.. Bentar lagi skripsi n ditendang deh dari kampus alias disuruh lulus (hahaha)…. Nah, abis itu ke mana ya…. hmmm… bingung ny, ada saran ? :P wkwkwk, gw nulis apa sy dari tadi… ga jelas gini… huehehehee………..

Anyway, gw merasa hidup semakin penting ketika masuk kuliah n menemukan arti perjuangan juga pas kuliah, maklum lah… wong sekolah dari TK ampe SMA tinggal ngesot gituh dari rumah, kalo bosen ngesot ya minta dianterin bokap dounk… huehehe… kalo ga naek pedah dari rumah…

Hohoho… tiba2 teringat :P ngimpinya sih bisa ke beida (北京大学) tapi entahlah… mudah2an bisa tercapai… doain ya….

hohoho… memang sebuah postingan yang aneh… hohoho 





Be Yourself (Yourself yang mana ??)

13 04 2008

Waktu saya kecil dulu (mungkin sampe sekarang kali ya) sering sekali saya mendengar ucapan ‘Be Yourself’ jadilah dirimu. Hal ini diucapkan karena seseorang demen banget ngebunglon (ngikut) orang laen atau kelompoknya dan ini dinilai tidak baik.

Ketika saya beranjak dewasa dan tepatnya sih pas mulai kuliah, saya mulai menyadari bahwa semua hal di dunia ini cenderung relatif. Bahkan apa yang sering dikatakan pastipun menjadi relatif, yaitu Baik dan Buruk. Sedikit bicara baik dan buruk, saya ingat betul ketika nonton Satria Baja Hitam, yang baik itu ya yang cakep, yang jahat itu yang mukanya jelek dan di akhir cerita yang baik pastilah menang. Di kuliah, ketika menerapkan konsep ini dalam mencerna pelajaran, saya menemukan berbagai pertentangan apalagi ketika mempelajari sejarah Cina. Ketika Jepang menyerang Cina, siapakah yang baik dan siapakah yang buruk (atau dalam hal ini yang jahat) ? Kalau dalam konteks Cina, Cina pastilah seorang yang baik, karena tidak pernah ‘menjajah’ dan Jepang adalah seorang yang jahat tapi dalam konteks Jepang, Jepanglah yang baik karena Jepang ingin menyadarkan Cina akan keterbelakangan Cina selama ini dan Cina merupakan sebuah sosok yang jahat. Ketika konsep baik-jahat ini dijalankan bagaimana kita sebagai saya netral menyimpulkannya ? Jadi yang baik itu Cina atau Jepang ?? ‘Dilihat dari mana dulu dong….’ celetuk seorang teman… Betul… ketika dilihat dari mananya itulah sebuah konsep baik-buruk, benar-jahat menjadi sesuatu yang relatif.

Kembali ke Be Yourself itu…. pernahkah Anda berpikir… kita semua pasti melalui proses dari bayi, menjadi anak, remaja, pemuda, dan dewasa. Tidak mungkin seseorang dapat langsung menjadi dewasa. Ketika seorang Bayi melakukan sebuah kesalahan, mungkin kita akan berkata ‘ah, itu kan bayi, belum ngerti apa-apa’ tepat sekali karena bayi memang dalam proses belajar. Belajar dari siapakah bayi tersebut ? Pasti dari yang mengasuhnya (entah orang tua, suster, atau dari keluarga) tapi yang pasti bayi itu tidak tahu dari dirinya sendiri dan bayi itu tidak tahu tahu menjadi tahu begitu saja. Pasti ada proses pembelajaran. Ketika menjadi anak-anak dan harus mulai makan sendiri, orang tua mengajari tata krama, bahwa sendok harus berada di tangan kanan, garpu di tangan kiri dan seterusnya. Ketika seorang anak mulai masuk sekolah, ia mulai berkenalan dengan teman-teman sebayanya dan mulai bertukar pikiran. Mereka mulai melihat, bahwa temannya tidak sama persis dengan dia dan bahwa ada beraneka ragam orang selain orang tuanya sendiri. Dalam hal ini terjadi interaksi saling tukar-menukar kebiasaan dan anak semakin diperkaya… hal ini berlangsung terus menerus hingga kita meninggal. Seorang manusia tidak dapat lepas dari lingkungannya, tidak dapat bergerak sendiri dari awalnya dan selalu bergantung pada orang lain.

Setelah melihat penggambaran hidup manusia, lalu yang manakah yang dikatakan diri sendiri (Myself) ? Bukankah seorang manusia itu terbentuk dari watak orang-orang yang ada di sekitarnya ? Seorang bayi pastilah belajar kata-kata yang diucapkan orang tuanya. Seorang anak yang masuk sekolah mulai belajar dari temannya, seorang karyawan belajar dari bosnya dan proses tersebut terus menerus terjadi dalam hidup kita. Ada hal yang masuk dan ada hal yang keluar, tapi toh inilah uniknya informasi, kita tidak kehilangan informasi yang keluar tapi mendapatkan sesuatu jika ada informasi yang masuk. Ketika sebegitu banyaknya informasi yang masuk dan pastinya tidak dapat dibendung, yang manakah diri kita ?

Hal ini dapat dijawab ketika kita masuk pada fase yang disebut pencarian jati diri. Dikatakan para remaja merupakan yang masuk fase ini. Mereka (dan mungkin saya juga) belum begitu tahu, siapa sih saya ini. Bagaimana saya ini. Hal inilah yang harus dicari, dipilah dan ditentukan dari sekian banyak informasi yang masuk dalam diri kita sehingga ketika kita selesai menentukan informasi, itulah diri kita

Setelah kita menjadi diri kita, lalu kenapa seringkali didengungkan Be Yourself ? Dirimu adalah dirimu, dirimu ini unik dan tidak ada duanya yang identik dengan dirimu. Maka menurut saya sendiri, hal ini dilontarkan banyak orang agar menjadi peringatan agar kita tidak mengikuti sesuatu yang dianggap buruk oleh masyarakat secara tidak sadar. Agar kita menjadi diri kita sendiri….





Penghargaan Karya Bangsa

13 04 2008

Tadi pagi, di gereja ada pertunjukan lagu dari anak-anak SDK6. Yang membuat saya kagum, selain karena yang main anak-anak SD dan mainnya itu bagus sekali tapi juga mereka itu memainkan lagu dengan apa yang dinamakan Angklung.

Kita pasti udah kenal banget dengan apa yang disebut dengan angklung. Alat musik bambu yang mengeluarkan bermacam nada ini memang suatu alat musik yang khas milik kita. Tapi, saya sendiri sedih dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Bangsa asing mematenkan sesuatu yang memang menjadi ciri khas dari Bangsa Indonesia. Angklung, batik, tempe, tahu, reog, dan masih banyak lagi yang lainnya yang sudah akan siap-siap dipatenkan oleh bangsa asing. Saya berpikir… mengapa Bangsa kita tidak sadar akan hal ini, dan jikalau sadar mengapa hal ini dianggap enteng ? Mungkin banyak orang beranggapan, kita tahu sama tahu dan itu merupakan kepemilikan banyak orang, jadi tidak mungkin ada yang mengakuinya. Pemikiran tersebut mungkin masih berlaku ketika kita hanya bergaul dengan sesama orang Indonesia, ketika kita bergaul secara global, secara internasional maka semua itu menjadi sirnah. Hanya hukum yang dapat berbicara. Hukum yang mengatakan sesuatu itu milik siapa, dan yang mematenkan itulah yang memilikinya. Di dalam negri, kita terlalu sibuk memodernkan diri kita. Kita terlalu sibuk menyerap teknologi dari Barat yang tidak henti-hentinya dan secara tidak sadar kita kecolongan. Satu per satu kekayaan Budaya Bangsa kita dipatenkan di kancah internasional.

Bagaimana ini dapat terjadi ? Kita sendiri sebagai Bangsa yang maunya modern, definisi modern di sini tentu saja modernnya si Barat itu sehingga karya-karya tradisional yang sebenarnya sangat kaya, sangat banyak itu tidak tergali bahkan lama-lama hilang. Orang asing yang banyak datang ke Indonesia, ingin sekali mengetahui Budaya-budaya Indonesia yang dikatakan kaya dan beragam ini. Mereka dengan tekun memelajari sesuatu yang terus terang saja sudah kita tinggalkan karena dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Orang asing itu toh pada akhirnya tidak semuanya mempunyai itikad baik. Ketika satu-dua orang kembali ke negaranya dan mereka mempertunjukkan di sana, maka orang asal mereka menjadi kagum. Mungkin satu orang kagum dan sampai di situ saja, tapi untuk orang lain ini merupakan sesuatu harta yang tidak ternilai dan jika dapat dipatenkan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi yang sangat tinggi. Mereka yang dari dahulu memang sebuah Bangsa yang suka menulis maka mereka membukukan hasil karya yang sebenarnya hasil karya bangsa kita dan disebarluaskan seolah-olah itu ada buatan mereka. Mereka bahkan membuka kelas khusus mempelajari suatu seni Indonesia yang dijadikan mata kuliah di universitas negara asal mereka.

Lalu, apa yang terjadi di negri kita ini ketika hal ini terjadi ? Kita malah kaget. Shock dan saling menyalahkan. Di mata mereka mungkin kita ini bangsa yang ignorant, tidak peduli dengan hasil kebudayaan bangsa kita sendiri dan setelah kita puas menyalahkan satu sama lain, semuanya telah terlambat karena klaim terhadap paten tersebut sudah dimasukkan.

Jika demikian yang terjadi maka lama-lama hasil karya Anak Bangsa kita akan semakin hilang, lalu bagaimana cara mengantisipasinya agar tidak hilang ? Pemerintah (dalam hal ini semua yang sedang berkuasa, entah siapa namanya) harus mulai menggali dengan mendata karya-karya yang ada di daerah kita. Kalau perlu minta suatu instansi yang peduli untuk mendokumentasikan ketika ada pementasan dan di video tersebut diperkenalkan sejarahnya, latar belakangnya, dan diperkenalkan bahwa ini adalah hasil karya anak Bangsa Indonesia dari daerah mana yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seelah itu di upload ke website khusus kebudayaan Indonesia. Saya yakin, Indonesia tidak kekurangan orang yang ahli dalam bidang pembuatan hal-hal seperti itu. Kemarin saja ada hacker yang bisa mengobrak-abrik situs Depkominfo dan jika talenta orang tersebut dikerahkan untuk pembuatan website, maka akan tercipta sebuah website yang aman. Pemerintah dalam hal ini harus bergerak untuk menjadi sebuah organisator yang memfasilitasi adanya sebuah website tentang Budaya Indonesia. Mungkin tidak harus langsung sekaligus, tapi secara bertahap dan program ini harus terus dijalankan (yang sering dikatakan berkesinambungan) ketika website ini dikenal di luar negri, kebudayaan negara kita akan dikenal

Itu dari sisi pemerintah, kita sebagai warga negara juga harus ikut mensosialisasikan apa yang menjadi budaya kita sendiri. Satu hal yang terbersit ketika anak-anak tersebut maju ke depan membawa Angklung yaitu, ‘Orang-orang pasti akan tertawa kalau ada yang ingin membuka kelas angklung…’. Kita kurang menghargai ketika ada mata kuliah Angklung atau mata pelajaran Angklung. Memang di sini sulitnya, tapi menurut saya solusinya adalah pertama mengajarkan dasar-dasar dari budaya kita, semisal angklung. Jika dalam kasus angklung, kemudian dapat dipadukan dengan apa yang sekarang menjadi trend anak muda yaitu Band. Angklung sendiri menurut saya dapat menjadi serasi dengan alat-alat musik modern tinggal bagaimana kita memasukkannya. Dalam arus deras globalisasi ini, menurut saya, budaya tradisional yang ingin bertahan harus ikut berevolusi tanpa kehilangan makna dan fungsinya, dan mereka harus membaur dengan budaya modern tanpa kehilangan jati dirinya. Dengan membaurnya budaya ini ke dalam budaya modern maka anak-anak muda dapat melihat bahwa kesenian tradisional ini bukan sesuatu yang kuno tetapi menjadi sesuatu yang memang khas, angklung adalah angklung tapi angklung bisa masuk Band juga….