Be Yourself (Yourself yang mana ??)

Waktu saya kecil dulu (mungkin sampe sekarang kali ya) sering sekali saya mendengar ucapan ‘Be Yourself’ jadilah dirimu. Hal ini diucapkan karena seseorang demen banget ngebunglon (ngikut) orang laen atau kelompoknya dan ini dinilai tidak baik.

Ketika saya beranjak dewasa dan tepatnya sih pas mulai kuliah, saya mulai menyadari bahwa semua hal di dunia ini cenderung relatif. Bahkan apa yang sering dikatakan pastipun menjadi relatif, yaitu Baik dan Buruk. Sedikit bicara baik dan buruk, saya ingat betul ketika nonton Satria Baja Hitam, yang baik itu ya yang cakep, yang jahat itu yang mukanya jelek dan di akhir cerita yang baik pastilah menang. Di kuliah, ketika menerapkan konsep ini dalam mencerna pelajaran, saya menemukan berbagai pertentangan apalagi ketika mempelajari sejarah Cina. Ketika Jepang menyerang Cina, siapakah yang baik dan siapakah yang buruk (atau dalam hal ini yang jahat) ? Kalau dalam konteks Cina, Cina pastilah seorang yang baik, karena tidak pernah ‘menjajah’ dan Jepang adalah seorang yang jahat tapi dalam konteks Jepang, Jepanglah yang baik karena Jepang ingin menyadarkan Cina akan keterbelakangan Cina selama ini dan Cina merupakan sebuah sosok yang jahat. Ketika konsep baik-jahat ini dijalankan bagaimana kita sebagai saya netral menyimpulkannya ? Jadi yang baik itu Cina atau Jepang ?? ‘Dilihat dari mana dulu dong….’ celetuk seorang teman… Betul… ketika dilihat dari mananya itulah sebuah konsep baik-buruk, benar-jahat menjadi sesuatu yang relatif.

Kembali ke Be Yourself itu…. pernahkah Anda berpikir… kita semua pasti melalui proses dari bayi, menjadi anak, remaja, pemuda, dan dewasa. Tidak mungkin seseorang dapat langsung menjadi dewasa. Ketika seorang Bayi melakukan sebuah kesalahan, mungkin kita akan berkata ‘ah, itu kan bayi, belum ngerti apa-apa’ tepat sekali karena bayi memang dalam proses belajar. Belajar dari siapakah bayi tersebut ? Pasti dari yang mengasuhnya (entah orang tua, suster, atau dari keluarga) tapi yang pasti bayi itu tidak tahu dari dirinya sendiri dan bayi itu tidak tahu tahu menjadi tahu begitu saja. Pasti ada proses pembelajaran. Ketika menjadi anak-anak dan harus mulai makan sendiri, orang tua mengajari tata krama, bahwa sendok harus berada di tangan kanan, garpu di tangan kiri dan seterusnya. Ketika seorang anak mulai masuk sekolah, ia mulai berkenalan dengan teman-teman sebayanya dan mulai bertukar pikiran. Mereka mulai melihat, bahwa temannya tidak sama persis dengan dia dan bahwa ada beraneka ragam orang selain orang tuanya sendiri. Dalam hal ini terjadi interaksi saling tukar-menukar kebiasaan dan anak semakin diperkaya… hal ini berlangsung terus menerus hingga kita meninggal. Seorang manusia tidak dapat lepas dari lingkungannya, tidak dapat bergerak sendiri dari awalnya dan selalu bergantung pada orang lain.

Setelah melihat penggambaran hidup manusia, lalu yang manakah yang dikatakan diri sendiri (Myself) ? Bukankah seorang manusia itu terbentuk dari watak orang-orang yang ada di sekitarnya ? Seorang bayi pastilah belajar kata-kata yang diucapkan orang tuanya. Seorang anak yang masuk sekolah mulai belajar dari temannya, seorang karyawan belajar dari bosnya dan proses tersebut terus menerus terjadi dalam hidup kita. Ada hal yang masuk dan ada hal yang keluar, tapi toh inilah uniknya informasi, kita tidak kehilangan informasi yang keluar tapi mendapatkan sesuatu jika ada informasi yang masuk. Ketika sebegitu banyaknya informasi yang masuk dan pastinya tidak dapat dibendung, yang manakah diri kita ?

Hal ini dapat dijawab ketika kita masuk pada fase yang disebut pencarian jati diri. Dikatakan para remaja merupakan yang masuk fase ini. Mereka (dan mungkin saya juga) belum begitu tahu, siapa sih saya ini. Bagaimana saya ini. Hal inilah yang harus dicari, dipilah dan ditentukan dari sekian banyak informasi yang masuk dalam diri kita sehingga ketika kita selesai menentukan informasi, itulah diri kita

Setelah kita menjadi diri kita, lalu kenapa seringkali didengungkan Be Yourself ? Dirimu adalah dirimu, dirimu ini unik dan tidak ada duanya yang identik dengan dirimu. Maka menurut saya sendiri, hal ini dilontarkan banyak orang agar menjadi peringatan agar kita tidak mengikuti sesuatu yang dianggap buruk oleh masyarakat secara tidak sadar. Agar kita menjadi diri kita sendiri….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: