Penghargaan Karya Bangsa

Tadi pagi, di gereja ada pertunjukan lagu dari anak-anak SDK6. Yang membuat saya kagum, selain karena yang main anak-anak SD dan mainnya itu bagus sekali tapi juga mereka itu memainkan lagu dengan apa yang dinamakan Angklung.

Kita pasti udah kenal banget dengan apa yang disebut dengan angklung. Alat musik bambu yang mengeluarkan bermacam nada ini memang suatu alat musik yang khas milik kita. Tapi, saya sendiri sedih dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Bangsa asing mematenkan sesuatu yang memang menjadi ciri khas dari Bangsa Indonesia. Angklung, batik, tempe, tahu, reog, dan masih banyak lagi yang lainnya yang sudah akan siap-siap dipatenkan oleh bangsa asing. Saya berpikir… mengapa Bangsa kita tidak sadar akan hal ini, dan jikalau sadar mengapa hal ini dianggap enteng ? Mungkin banyak orang beranggapan, kita tahu sama tahu dan itu merupakan kepemilikan banyak orang, jadi tidak mungkin ada yang mengakuinya. Pemikiran tersebut mungkin masih berlaku ketika kita hanya bergaul dengan sesama orang Indonesia, ketika kita bergaul secara global, secara internasional maka semua itu menjadi sirnah. Hanya hukum yang dapat berbicara. Hukum yang mengatakan sesuatu itu milik siapa, dan yang mematenkan itulah yang memilikinya. Di dalam negri, kita terlalu sibuk memodernkan diri kita. Kita terlalu sibuk menyerap teknologi dari Barat yang tidak henti-hentinya dan secara tidak sadar kita kecolongan. Satu per satu kekayaan Budaya Bangsa kita dipatenkan di kancah internasional.

Bagaimana ini dapat terjadi ? Kita sendiri sebagai Bangsa yang maunya modern, definisi modern di sini tentu saja modernnya si Barat itu sehingga karya-karya tradisional yang sebenarnya sangat kaya, sangat banyak itu tidak tergali bahkan lama-lama hilang. Orang asing yang banyak datang ke Indonesia, ingin sekali mengetahui Budaya-budaya Indonesia yang dikatakan kaya dan beragam ini. Mereka dengan tekun memelajari sesuatu yang terus terang saja sudah kita tinggalkan karena dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Orang asing itu toh pada akhirnya tidak semuanya mempunyai itikad baik. Ketika satu-dua orang kembali ke negaranya dan mereka mempertunjukkan di sana, maka orang asal mereka menjadi kagum. Mungkin satu orang kagum dan sampai di situ saja, tapi untuk orang lain ini merupakan sesuatu harta yang tidak ternilai dan jika dapat dipatenkan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi yang sangat tinggi. Mereka yang dari dahulu memang sebuah Bangsa yang suka menulis maka mereka membukukan hasil karya yang sebenarnya hasil karya bangsa kita dan disebarluaskan seolah-olah itu ada buatan mereka. Mereka bahkan membuka kelas khusus mempelajari suatu seni Indonesia yang dijadikan mata kuliah di universitas negara asal mereka.

Lalu, apa yang terjadi di negri kita ini ketika hal ini terjadi ? Kita malah kaget. Shock dan saling menyalahkan. Di mata mereka mungkin kita ini bangsa yang ignorant, tidak peduli dengan hasil kebudayaan bangsa kita sendiri dan setelah kita puas menyalahkan satu sama lain, semuanya telah terlambat karena klaim terhadap paten tersebut sudah dimasukkan.

Jika demikian yang terjadi maka lama-lama hasil karya Anak Bangsa kita akan semakin hilang, lalu bagaimana cara mengantisipasinya agar tidak hilang ? Pemerintah (dalam hal ini semua yang sedang berkuasa, entah siapa namanya) harus mulai menggali dengan mendata karya-karya yang ada di daerah kita. Kalau perlu minta suatu instansi yang peduli untuk mendokumentasikan ketika ada pementasan dan di video tersebut diperkenalkan sejarahnya, latar belakangnya, dan diperkenalkan bahwa ini adalah hasil karya anak Bangsa Indonesia dari daerah mana yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seelah itu di upload ke website khusus kebudayaan Indonesia. Saya yakin, Indonesia tidak kekurangan orang yang ahli dalam bidang pembuatan hal-hal seperti itu. Kemarin saja ada hacker yang bisa mengobrak-abrik situs Depkominfo dan jika talenta orang tersebut dikerahkan untuk pembuatan website, maka akan tercipta sebuah website yang aman. Pemerintah dalam hal ini harus bergerak untuk menjadi sebuah organisator yang memfasilitasi adanya sebuah website tentang Budaya Indonesia. Mungkin tidak harus langsung sekaligus, tapi secara bertahap dan program ini harus terus dijalankan (yang sering dikatakan berkesinambungan) ketika website ini dikenal di luar negri, kebudayaan negara kita akan dikenal

Itu dari sisi pemerintah, kita sebagai warga negara juga harus ikut mensosialisasikan apa yang menjadi budaya kita sendiri. Satu hal yang terbersit ketika anak-anak tersebut maju ke depan membawa Angklung yaitu, ‘Orang-orang pasti akan tertawa kalau ada yang ingin membuka kelas angklung…’. Kita kurang menghargai ketika ada mata kuliah Angklung atau mata pelajaran Angklung. Memang di sini sulitnya, tapi menurut saya solusinya adalah pertama mengajarkan dasar-dasar dari budaya kita, semisal angklung. Jika dalam kasus angklung, kemudian dapat dipadukan dengan apa yang sekarang menjadi trend anak muda yaitu Band. Angklung sendiri menurut saya dapat menjadi serasi dengan alat-alat musik modern tinggal bagaimana kita memasukkannya. Dalam arus deras globalisasi ini, menurut saya, budaya tradisional yang ingin bertahan harus ikut berevolusi tanpa kehilangan makna dan fungsinya, dan mereka harus membaur dengan budaya modern tanpa kehilangan jati dirinya. Dengan membaurnya budaya ini ke dalam budaya modern maka anak-anak muda dapat melihat bahwa kesenian tradisional ini bukan sesuatu yang kuno tetapi menjadi sesuatu yang memang khas, angklung adalah angklung tapi angklung bisa masuk Band juga….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: