Demokrasi

Kalau kita berbicara tentang demokrasi mungkin kata pertama yang muncul di benak kita yaitu AS atau Amerika Serikat. Memang sangat tepat menyebut AS karena memang negara inilah yang merupakan akar dari apa yang disebut dengan demokrasi. Kebebasan. Setelah mengamati demokrasi yang ditawarkan AS kepada negara-negara lain dan yang sudah mulai dijalankan di Indonesia, saya mulai bertanya-tanya, apakah sebenarnya tujuan dari demokrasi itu sendiri ? Apa saja yang diperlukan untuk menjalankan demokrasi ini ? dan apakah Amerika sebagai pelopor Demokrasi sendiri menjalankannya dengan sempurna ?

Saya melihat, kita sebagai bangsa Timur, ingin mengikuti segala macam gerak-gerik dari Bangsa Barat. Bahkan lebih jauh dikatakan, Bangsa Timur menjadi apa yang dikatakan modern hanya setelah berhubungan dengan dunia Barat. Saya ingin memperkecil cakupan Bangsa Timur ini menjadi Indonesia. Setelah terkungkung dalam pemerintahan diktator selama 32 tahun yang dijalankan oleh Presiden Soeharto, rakyat Indonesia mendapatkan kebebasan. Rakyat menginginkan adanya DEMOKRASI. Demokrasi dalam bidang apa ? segala bidang. Demokrasi, secara teori memang baik tapi ketika dijalankan malah menimbulkan suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab dan cenderung seenaknya. Di Indonesia, orang menganggap yang demokrasi itu ya, yang boleh berdemo… tapi ketika dibiarkan demo tersebut menjadi sebuah tindakan anarkis yang merugikan. Dikatakan merugikan karena dalam demo itu seringkali disertai dengan pengrusakkan-pengrusakkan properti negara. Saya hanya berpikir, mereka itu kan berdemo tentang korupsi, tentang pejabat yang korupsi dalam bidang infrastruktur. Karena mereka korupsi, kualitas infrastruktur (bangunan) di Indonesia menjadi buruk, tapi ketika berdemo, pendemo malah merusak infrastruktur seperti mencoret-coret dinding dan lebih parah lagi membakar bangunan. Kan sudah tau itu dikorupsi, sekarang dihancurkan. Jika sudah dihancurkan berarti harus dibangun lagi toh.. dan uang untuk membangunnya nanti akan dikorupsi lagi sehingga tambah memberatkan negara dan pada akhirnya memberatkan rakyat juga, karena menurut saya negara dapat dengan mudah meningkatkan pajak, mungkin bukan pajak langsung seperti PPn dan PPH tapi bisa saja menaikkan biaya impor masuk bahan baku sehingga industri harus menaikkan harga jual mereka dan inilah yang menyebabkan harga-harga melambung. Rakyat langsung terkena dampaknya. Para empunya pabrik sih tidak peduli, selama mereka masih bisa untung, tidak ada masalah dengan beban berlebih yang dibebankan pada mereka, toh mereka tinggal menaikkan harga jual produk mereka di pasaran dan masalah mereka selesai, tapi tidak dengan rakyat… rakyat semakin diberatkan dengan harga-harga tersebut. Okelah.. mungkin kita bisa bilang kalau itu memang demo dan demo itu dekat sekali dengan anarkis. Kita ambil contoh lain, yang satu ini memang dari dunia Barat, dari dunia si pencipta demokrasi itu sendiri. Waktu kemaren itu sempat beredar film Fitna. Film ini, jika saja tidak dikaitkan dengan satu agama apapun dapat dikatakan hanya sebagai film, tapi ketika dikaitkan dengan sebuah agama, muncul sebuah perlawanan dan perasaan ‘Koq lo sok tau banget sih sama agama gw!’ Apakah ini yang dinamakan demokrasi ? Bebas yang sebebas-bebasnya tanpa memikirkan hak orang lain ? Memangnya yang punya hak bebas itu hanya seorang saja ?? padahal AS menjunjung tinggi individualisme, berarti semua orang memiliki hak sama dan dengan begitu semua orang mempunyai kebebasan. Kebebasan yang sebebas-bebasnya (saya tidak tahu apakah di teori Demokrasi ada pembatasan tentang hak dan kewajiban seseorang) dan kebebasan yang sebebas-bebasnya ini menimbulkan kekacauan karena akan banyak terjadi benturan kepentingan. Oh, saya tiba-tiba teringat, benturan ini akan diselesaikan secara hukum yang notabene juga sudah korup karena toh semua orang bebas menyuap, bukan begitu ?

Lalu, bagaiman menciptakan sebuah Demokrasi yang baik?… Kita sebagai Bangsa penyerap harus menciptakan sebuah filter. Kasus buruk demokrasi yang sering saya lihat bahwa Demokrasi tidak menganggap agama. Jika tidak menganggap agama berarti tidak menghormati agama. Memang, kemarin ini sudah ada yang berkomentar ‘Melecehkan agama bukanlah Demokrasi’. Agama memang sebuah hal sensitif untuk dibahas apalagi untuk dipermainkan dan memang dalam hal ini kita harus memasang filter juga. Saya teringat, ucapan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang mengatakan ‘Kalian boleh saja mengadakan demonstrasi. Kita ini negara demokrasi kok, tapi kalau kalian macam-macam, saya juga berhak menembak kalian’ Entah ini benar atau tidak (karena saya tidak membacanya secara langsung, hanya mendengar dari orang lain, tapi seandainya ini benar, ketika mendengar hal ini saya menjadi geli. Semua orang punya hak, saya (presiden) juga punya hak dong. Hak apa ? Hak menembak demonstran. Kalau ini terjadi, bukankah kita menjadi negara edan ?

Terakhir, saya ingin menyoroti tentang Amerika sendiri yang merupakan akar atau pusat dari gerakan Demokrasi ini sendiri tapi tidak konsisten dengan teorinya. Ia cenderung bersikap sesuai apa yang gw mau dan sesuai kepentingan gw. di PBB dan di mana saja, Amerika menginginkan adanya penegakan HAM. Jika kita mau kritis, buatlah dahulu apa saja HAM itu lalu kita lihat kenyataannya. Menurut saya menginvasi negara orang saja walaupun dengan alasan ini itu tetap saja dikatakan melanggar HAM. Cina, yang sangat menentang Amerika dalam hal penginvasian privasi seseorang (dalam hal ini sebuah negara). Cina menganggap Amerika telah mengacak-acak berbagai negara yang dikatakan melanggar ‘HAM’. Cina lebih senang, biarkan mereka mengurusi urusan mereka sendiri, kecuali jika dapat menggoyang stabilitas regional dan internasional. Kedua, tentang sensor media. Lagi-lagi Cina yang menentang. Ketika ada kerusuhan di Tibet, Amerika khususnya dan dunia barat pada umumnya menyoroti kasus Tibet. Mereka menganggap itu adalah sebuah pelanggaran HAM dan pembatasan demokrasi karena tidak memberikan pilihan kepada masyarakat Tibet dan melarang pers asing untuk meliput. Saya menyimpulkan bahwa, kita seringkali terpesona dengan apa yang dikabarkan oleh pers Barat mengenai suatu kejadian dan melupakan pemikiran apa yang melatarbelakangi sebuah peristiwa terjadi dan ideologi dibaliknya. Kita terbius dengan Barat dan menganggap bahwa Cina itu salah, Cina itu tidak demokrasi sehingga harus diubah. Ketika ada intervensi dari pers Barat, berita yang ada di masyarakat menjadi beragam dan mungkin sekali terjadi bias dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pemerintah Cina sendiri. Jika Melihat kembali dengan konsep ‘jangan mengganggu urusan rumah tangga Cina’ yang ditegakkan oleh Cina, maka dapat dikatakan Barat itu salah, tapi ini toh tinggal dari sisi mana kita melihat dan sebuah kejadian itu baik-buruknya sekali lagi menjadi relatif, tapi toh tetap barat ngotot dengan Demokrasinya di sini. Hanya karena Cina mempunyai kekuatan yang cukup disegani sehingga tidak terus menerus ditekan. Urusan media blackout ini atau pers blocking ini dan pemilihan berita yang disampaikan sebenarnya diterapkan juga di Barat. Mana ada media Barat yang terang-terangan membeberkan keburukan negaranya. Tidak seperti Indonesia yang memberitakan apa adanya, di Barat selalu ada sensor terhadap media dan hanya yang baik-baik saja yang dan yang 1/2 baik yang diberitakan. Porsinyapun tidak berimbang. Mau bukti ? Coba baca media Barat, semisal CNN, kemudian bandingkan dengan media di Indonesia seperti KOMPAS.COM. Apa yang Anda baca ? jarang sekali kemiskinan di Barat disorot oleh media sana. Yang ada mereka menyorot kemiskinan di Indonesia, buta huruf di Indonesia, Sakit Penyakit Indonesia dan segala yang buruk-buruk tentang Indonesia dan negara-negara lainnya (yang notabene Timur – Dalam hal ini saya tidak tahu apakah Jepang itu Timur atau Barat ???). Apakah dengan demikian, di sana tidak ada kemiskinan ? tidak ada pengangguran ? tidak ada sakit penyakit ?. Jika kita bertanya tentang hal ini mungkin mereka akan membantah dan langsung membandingkan kemiskinan di sana dengan di sini (Indonesia). Ya pasti kalah lah kalau dibandingkan…. Yang ngobrak-ngabrik negara kita kan mereka juga (dengan IMF nya). Indonesia yang belum ada 100 tahun merdeka, sudah diobrak-abrik bagaimana kita bisa sama dengan si Amerika sana yang selalu hidup sejahtera (masa sejahtera di sana pasti lebih banyak dari di Indonesia). Di sini amat terlihat ketimpangan pemberitaan dan inilah kondisi yang terjadi. Mereka sangat hebat dalam menciptakan stigma. Kita (Barat) jago, Kamu (Timur, negara dunia ketiga, sang negara lemah) buruk. Jadi terbersit di pikiran saya ‘Segala yang buruk dari dunia ketiga’ dan itu terkadang diterima mentah-mentah oleh rakyatnya. Rakyat Barat menjadi shock ketika mereka tahu bahwa Bangsa-bangsa dunia ketika tidak seburuk yang mereka kira. Jadi apa yang terjadi ?? Kita mengikuti model yang jelas-jelas tidak menjalankan apa yang dia kotbahkan ! Kita sebagai Bangsa yang tidak semaju Amerika seharusnya bisa menemukan model-model yang tepat dengan Bangsa kita dengan istilah yang tidak kalah eye-catchingnya dari apa yang disuguhkan oleh Barat. Menurut saya, jika kita ingin membandingkan sang Barat dengan Sang Timur, lihatlah Cina. Dengan segala gejolak modernisasi, Cina sampai sekarang masih bertahan. Mereka bersikukuh dengan apa yang mereka sebut sebagai Sosialis tahap awal, berdiri di kaki sendiri dan Masyarakat ekonomi sosialis (Semua diartikan dari istilah Cina). Mereka bangga akan hal ini (mungkin tidak semua orang, tapi setidaknya inilah yang dijadikan haluan negara) tapi setidaknya, mereka sebagai negara masih memiliki suatu kebanggaan. Bahkan yang paling mengagumkan yaitu perkataan presiden mereka, yang mengatakan ‘Siapkan 100 peti mati, 1 buat saya jika saya korupsi’ bukankah ini yang diharapkan di Indonesia… tapi orang akan mencibir, Siapkan 1000 peti mati dan peti itu akan penuh semua dalam waktu singkat. Inilah kenyataan Indonesia. Inilah yang harus dirubah dan Bangsa ini harus menemukan caranya sendiri. Tidak dengan ngintilin (Mengikuti) Amerika, tidak dengan ngintilin Cina, tapi dengan cara kita sendiri, sehingga Bangsa kita sekali lagi akan diakui dunia Internasional sebagai bangsa yang berwibawa.

Dengan kaitkata , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: