Ia Ada dan Memedulikan Kita

Hmm… Tidak terasa sekarang saya sudah berumur 26 tahun. Sudah cukup banyak pengalaman dan kesulitan yang saya hadapi sepanjang 26 tahun itu. Mungkin memang tidak dapat dibandingan dengan yang sudah hidup 50, 60 bahkan 70 tahun-an, tapi namanya masalah itu memang ada saja. Dari sejak di bangku sekolah SD, SMP, SMA, Saya, sama seperti siswa-siswa sekolahan lainnya yang dipermasalahkan yaitu nilai. Ya namanya murid, wajib hukumnya untuk naik kelas, kalau bisa mendapatkan rangking 1 di kelasnya.

Setelah dari jenjang SD, SMP, SMA saya masuk ke jenjang kuliah. Di sini lebih banyak lagi kesulitan yang didapatkan. Teman-teman pastinya sudah tidak seperti di SD, SMP dan SMA lagi. Mereka punya kesibukan sendiri-sendiri dan seringkali tidak sama. Ada yang kuliah-pulang, ada yang kuliah-perpus dan yang lain ada juga yang kuliah-kerja. Mau tidak mau harus bekerja sama dengan mereka menuntaskan semua pekerjaan kuliah yang wajib dikerjakan dalam kelompok. Suka atau tidak suka. Itu baru masalah dalam perkuliahan. Belum lagi banyak mulai banyak yang keluarganya bermasalah. Ayah-ibu bercerai lah, atau terkena musibah berupa penyakit atau musibah lainnya. Dalam menghadapi permasalahan-permasalahan itu pasti seringkali kita menjadi merasa hidup ini amat sangat berat. Sampai sangat berat kita merasa kita tidak mempunyai Tuhan lagi.

Kali ini saya tidak membicarakan mengenai masalah berat-berat seperti keluarga bercerai dan lain sebagainya, tapi hal yang lebih kecil, yaitu Skripsi. Hal yang seringkali membuat pusing kepala para calon-calon lulusan. Sama seperti calon lulusan lainnya, pada waktu itu, tahun 2009, waktunya saya membuat skripsi. Untuk seorang mahasiswa dengan pengetahuan yang terbatas dan sangat jarang menulis, membuat skripsi merupakan sesuatu yang hampir mustahil buat saya waktu itu. Akan menulis apa ? Bahannya dari mana ? Teorinya apa ? Apakah dosen akan setuju ? Bagaimana jika tidak ? Sidang skripsinya bagaimana ? Dan banyak hal lainnya saya pertanyakan pada waktu itu dan mungkin satu kata yang pas untuk menjelaskan situasi saya pada waktu itu adalah Mumet.

Mumet. Ya, saya mumet sekali pada waktu itu. Kadangkalah kalau terpikir masalah itu keringat dingin keluar. Kenapa ? Karena belum ada yang mau ditulis tapi waktu tinggal 3 bulan lagi. Setelah keringat dingin keluar biasanya diikuti dengan kondisi panik, dan uring-uringan, walaupun semua hal itu tidak menyelesaikan masalah. Saya sendiri baru sadar, ternyata itulah yang dirasakan calon lulusan lainnya, karena beberapa tahun kemudian ada yang mengirimi saya surat elektronik menanyakan soal, Apakah saya punya suatu ide untuk ia tulis sebagai skripsi ?, Dalam benak saya hanya ada satu pikiran, “Wah, dia ternyata mengalami apa yang saya alami dulu juga ya.” Panik, tidak tahu apa yang mau ditulis, padahal waktu terus berjalan, terus bergulir dan pada akhirnya kita wajib menulis supaya bisa lulus. Mau menunda semester depan juga percuma karena toh itu sesuatu yang harus dihadapi cepat atau lambat. Apalagi saya merupakan mahasiswa sebuah perguruan tinggi negri yang notabene hanya diperbolehkan maksimal kuliah 6 tahun saja. Kalau sudah lebih dari 6 tahun saya akan berstatus DO alias Drop Out dan percuma perjuangan saya sepanjang 3 1/2 tahun sebelumnya kalau skripsi tidak terselesaikan.

Di tengah suasanya hati yang galau dan mumet itulah ada seorang murid yang memberikan kepada saya sepucuk tulisan yang sempat dia tulis. Oh iya, sebelumnya saya harus menceritakan, saya mengajar Sekolah Minggu untuk kelas 1 SD. Pada suatu hari minggu, tanpa ada badai dan angin serta keanehan lainnya ada seorang murid Sekolah Minggu saya memberikan selembar prakarya yang dulu sempat dia buat. Prakarya itu dalam bentuk selembar karton yang dilipat dua, pada bagian depannya sudah ia hiasi dan digambar dengan rangkaian bunga dan di dalamnya ada tulisan:

“Tuhanlah Kekuatanku”

Sebuah kutipan Ayat Hafalan anak sekolah minggu kelas 1 SD yang kebetulan sempat ia tuliskan menjadi prakarya. Kemudian ia mengatakan pada saya, “Ini buat kakak.” Saya bingung dan hanya menerima saja. Lembaran karton itu saya biarkan tergeletak di atas meja saya dan baru saya sadari maknanya ketika saya sudah lulus kuliah. Mengapa hal itu bisa terjadi ? Apa yang membuat anak itu memberikan prakarya nya pada saya tanpa saya tanyakan apa-apa ? Dari kejadian itu saya hanya bisa menyimpulkan: Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia tahu, Ia ada dan Ia memedulikan kita. Ia memakai orang di sekitar kita, betapa kecilnyapun dia untuk mengingatkan kita bahwa Dia ada. Di tengah masa sulit, masa mumet, masa-masa saya tidak tahu topiknya apa, harus menulis apa, Tuhan ingin berpesan melalui anak SD kelas 1 itu bahwa Ia ada, jadikanlah Ia kekuatanmu dalam menghadapi masalahmu.

Sampai sekarang kalau saya membayangkan kejadian pada hari itu saya terenyuh dan terdiam. Ia ada dan Ia nyata. Kalau mungkin dalam menghadapi masalah kita suka berkata, di mana Tuhan, mungkin inilah yang akan saya katakan pada Anda, “Ia Ada dan memedulikan kita”

Dengan kaitkata , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: